Akupun tak tau, kalau sebenarnya aku adalah diriku....
Dalam kehampaanku, semua seakan tak ada.....
Hanya kelam.......
Dalam hatiku, akupun tak tau ada gumpalan daging berwarna merah...
Dalam mimpiku aku hanya tau, kau ada dalam kesepian batinku...
Meski rasa itu adalah maut bagiku, semua telah terukir dalam kitabku....
Pasrah.....
Tertunduk...
Diam....
Semua seakan ada di dalam ketidakpastian...
Semua hilang...
Semua lenyap....
Semua hanyut....
Matiku kini tak lagi ada..
Ketika mimpiku tak lagi dalam tidur....
Semua berharap...
Semua ingin...
Semua tak berpaling...
Langit sana tak lagi biru...
Tanah di sana tak lagi Merah...
Hujan di sana tak lagi pernah rintik...
Semua abu-abu...
semua mati..
samua hidup tapi tak mati....
Gelisah....
Bingung...
Melamun namun tak pasti....
Dalam batin mentari hanya ada kelam yang tak kunjung datang...
Berawal dari sebuah harapan, dan jatuh pada lubang harapan..
Ketidakpastian adalah awal nyata, ketika mata tak lagi terpejam...
Semua hilang terabaikan...
semua lenyak tak berbekas...
Kehidupan hanya satu, mesti semua hendak berkata mereka masih hidup...
Kasih sepanjang jalan,itupun hanya ungkapan
ketika mereka hanya sanggup berkata, bukanlah bumi tempatnya berpijak...
Kini pilu adalah obat derita
yang tertinggal hanyalah daun kering di sudut kota...
Semua terpedaya oleh angin yang tak menentu..
Janji-janji hanyalah sebuah harapan...
Meski tubuh adalah jaminan...
Meski raga tak lagi dipedulikan..
Yang mereka tau hanyalah kemunafikan...
yang mereka tau hanyalah kesenangan sesaat...
Yang mereka tau hanyalah birahi...
Lamunan mereka kini hanyalah sebuah ilusi..
Kembali berharap pada ketidakpastian...
Kembali berharap pada kezaliman...
Kembali berharap pada rumput yang tak lagi hijau...
Mati......
Diam...................
Maut................
Lemah...............
Wafat..............
Ketidakpastian
Harga mati adalah keinginan....
Dti-detik hijaupun semua tak lagi Pati...
Semua hilang, tapi tak lenyap.....
Kematian adalah simbol...
Tentang kita....
Tentang Mereka....
Dan tentang kita, mereka dan tntang dialetiaka daun tua....
Semua Beranjak.....
Semua Sendiri..
Akupun tak tahu lagi hidupku dalam daun kering di sudut kota itu....
TERINSPIRASI DARI RASA PENYESALAN YANG BERKEPANJANGAN, TERIMAH KASIH
TUHAN KARENAMU AKU MASIH BISA MENULIS PUISI INI SEBAGAI UNGKAPAN
HATIKU,PILUKU,KESENDIRIANKU, SEMUA TANGISKU, SEMUA HARAPANKU,DENGAN
KUASAMU AKU AKAN HIDUP 1000 TAHUN LAGI....
Senin, 17 Desember 2012
Riwayat Hidupku
Baso Manguntungi, lahir di Maros, pada tanggal 15 Agustus 1990. Penulis adalah anak kesepuluh dari sepuluh bersaudara yang merupakan buah cinta kasih dari pasangan Solong dan Sitti Hukma.
Penulis memulai pendidikannya di SDN 32 Mangai pada tahun 1995 s.d.2001. Pada tahun yang sama, penulis melanjutkan pendidikan di SLTP Negeri 1 Maros dan tamat pada tahun 2004. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Bantimurung dan tamat pada tahun 2007. Pada tahun yang sama, penulis berhasil lulus dalam Penerimaan Mahasiswa Jalur Khusus (PMJK) jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Universitas Negeri Makassar. Selama Kuliah penulis aktif dalam berbagai organisasi kampus anataralain :Anggota Lembaga Penelitian Mahasiswa Penalaran UNM(LPM Penalaran UNM), Ketua Bidang kaderisasi HIMABIO FMIPA UNM Priode 2008/2009, BPO HIMABIO FMIPA UNM Tahun 2011, Anggota Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia(KAMMI), Anggota Lembaga Kajian Ilmiah Mahasiswa Bertakwa(LKIMB UNM), Bidang Pengembangan Keilmuan BEM FMIPA UNM, Staff Pengajar Ranu Prima College( RPC),Himpunan Mahasiswa Islam(HMI) Bidang Redaksi Lembaga Pers Mahasiswa BIOma HIMABIO FMIPA UNM Tahun 2001.
Dalam Bidang akademik penulis pernah menjadi asisten laboratorium pada mata kuliah Biokimia Dasar, Kultur Jaringan Tumbuhan, Genetika dan Evolusi dan Fisiologi Tumbuhan. Selain itu penulis aktif mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Universitas dengan judul : Analisis Tingkat Kekeruhan Air Minum Depot Isi Ulang Di Kota Makassar, Pemanfaatan daun Manihot esculenta sebagai Bioinsektisida Dalam Pengendalian Hama Wereng, Analisis Tingkat Turbiditas Air Minum Isi Ulang diberbgai Depot di Kota Makassar, Pemnafaatan Buah Pisang(Musa paradisiaca) sebagai Medium Kultur Jaringan Anggrek, Desain Ruang Rawat Bersama Ibu dan Bayi (Rooming-in) Sebagai Alternatif Peningkatan Kesejahteraan Ibu dan Bayi Pasca Persalinan, Pemnfaatan Peralatan Sederhana dalam Fermentasi Buah Kakao sebagai Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Petani Kakao Skla Kecil, Teknik Pembuatan Bahan Bakar Alami dari Sampah Serasah dengan Bantuan Kombinasi Jamur Trichoderma sp dan Sacharomyces serevicea dan Menuju Desa Lestari Berbasis Agronomi Mandiri(Pelatihan Pembuatan EM4 Organik, Pupuk Bokhasi Cair, Pupuk Bokhasi Padat, dan Peternakan Cacing) di Desa Mangeloreng Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros. Penulis juga Aktif menulis Essay, Puisi, Cerpen dan salah satu tulisan yang pernah diterbitkan di Tribun Timur Adalah Dilema Mahasiswa Aktifis, Antara Bentrok gengsi dan Prestasi.
Dalam Bidang Kemasyarakatan Penulis aktif dalam organisasi pemuda dan Mahasiswa yaitu Ikatan Alumni Pemuda Pencinta Alam Kecamatan Bantimurung, Aktif sebagai Pemateri dalam Berbagai Pelatihan Dasar Kepemimpinan di Berbagai Sekolah Menegah Atas dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Kompos di Kecamatan Camba Kabupaten Maros.
Minggu, 16 Desember 2012
Tiap Hariku adalah Hari Ibu
Selamat Hari Ibu
Seorang ibu, setiap manusia pasti memilikinya kecuali manusia pertama, itulah filosofi hidup didunia, setiap kata setiap nadanya adaah do'a, untukmu ibu aku dan pelukku dalam cinta bumi Allah adalah untukmu penuh seluruh, kuhaturkan kalimat demi kalimat syahdu dalam bait do'a sujud syukurku pada Rabb ku yang maha Mnyayangi. Untukmu kawan da untuk kita semua.
Marilah kita sekejap memejamkan mata menundukkan kepala, mengingat apa yang telah kita lakukan pada ibunda tercinta, apa yang pernah kita katakan padanya, pertanyaan besar yang kemudian muncul sebagai dasar utama kita hidup di dunia ini"SUDAHKAH KITA MEMBAHAGIAKANNYA???"Ibu adalah kata yang begitu sangat berarti, dengannya kita bisa mencurahkan apa yang kita keluhkan, dengan doanya kita punya semangat hidup tapi coba bayangkan apa yang terjadi dengan ibu kita saat ini apakah hati mereka masih tersenyum sama seperti pada saat dia berkata"Nak ini uang untuk bekalmu di kota sana"Pernahkah kita berpikir akan tiap maslah atau beban hidup yang dia rasakan????Alangkah egoisnya kita ini, makan dengan cukup berbelanja pakaian yang layak nongkrong sana dan sini tanpa perna sedikitpun tau apa yang terjadi disana, apa yang terjadi pada perempuan yang dengan air susu kehidupannya kita bisa menghirup udara hingga saat ini. Do'a....Terkadang kita tau doa seorang anak shaleh dan shalehah akan menjadi penuntun jalannya, tapi apakah kita pernah melakukannya, kalaupun pernah apakah kita mengedepankan doa kita untuk ibu dibanding doa untuk kita pribadi. Pernahkah kita mendengar seorang ibu berkata "saya tidak pernah bisa melakukan untukmu nak"Buatnya semua bisa semua bisa terangkaikan dala indahnya kata2nya.Ya Allah ini adalah hari spesial buatnya. Tapi hari ini dunia begitu tak nyata, jabat tanganpun aku tak sanggup, hanya ucapan ini, mungkintak memiliki arti tapi sebuah pernyataan Hari ini ingin aku tegaskan"AKU SAYANG IBU"
Surat Cinta Untuk Ibu
Aku tak sanggup lagi mengatakannya, ya inilah hidupku...dengan segala keterbatasan yang aku punya, aku tau semua yang ada dalam duniaku tak sepatutnya aku tangisi, semua begitu berat antara perasaan dengan logikaku, semua hampa bahkan begitu hampa, aku bahkan terlahir dengan sejuta titk kehampaan, kurasakan setiap nafasku semakin sesak dengan sejuta masalah yang ada, aku telah mencoba menyerahkan, tapi disisi lain batinku menolaknya, dalam sudut2 terkecil duniaku masih ada yang begitu setia mencintaiku, yang ketika teringat namanya, teringat rupanya, teringat suaranya aku tak sanggup lagi membendung air mata ini, rasanya ingin memeluknya, tidur dalam dekapannya bahkan aku ingin hidupku selalu bersamanya..Ibu...namamu begitu syahdu untuk melelapkan tidur panjangku, sadarku dan inginku menyatu dalam rangkulan rinduku malam ini.
Oh Tuhan...
aku tahu, semua yang Engkau berikan padaku telah melebihi cukup buatku, tapi satu pintaku, kirimkan surat cintaku buatnya, meskipun engkau tak memberitahukannya, tapi tolong sampaikan, ada seseorang yang teramat rindu padanya, ada yang tiap detik mengingatnya, sampaikan salan rindu dari anaknya yang teramat jauh dari sisiNya. Aku tahu semua engkau miliki kuasa .
Ibu...
hari ini anakmu memikul beban yang teramat berat, tapi tak sanggup aku ucapkan ke gendang telingamu, aku Tahu, engkau peduli terhadapku dan aku yakin ketika engkau mengetahuinya maka nafsu makanmu akan hilang sekejap, air matamu tak berhenti menetes, bicaramu tak lagi seperti dahulu.
Ibu...
aku rindu suaramu, aku rindu teguran sapamu, aku rindu tiap kali menanyakan sehatku, makanku bahkan sampai titik yang anak kecilpun mampu mengerjakannya.
Ibu..
aku rindu ucapanmu, saat engkau berkata,”Nak aku ingin melihat rupa anak bungsuku yang kian deawasa” Aku Tahu engkau begitu ingin melihatku, tapi Tuhan begitu tahu mengapa Dia mesti mengambil penglihatanmu. Aku tahu, Tuhan punya rencana yang terbaik, tapi aku masih berharap suatu saat engkau masih bisa melihatku, aku masih berharap engakau masih bisa melihatku memakai toga yang sedari dulu engkau rindukan.
Ibu....
Aku tak perlu engkau tahu bahwa aku merindukanmu, tapi aku ingin engkau Tahu bahwa anakmu berjuang untuk kebahagiaanmu, aku hanya ingin menjadi bagian dari amal Jariyyah untuk akhiratmu. Aku tahu bahwa aku akan bahagia dengan setiap senyuman darimu, tapi aku harus berjuang , untuk keluarga kita dan pada mereka yang butuh akan aku dan apa yang aku ketahui.
Ibu...
Hanya melalui tulisan ini kurujukkan cinta buatmu, aku yakin dalam kebimbanganku selalu saja ada do’amu yang setia membimbingku, air mataku teramat memilkuan ketika engkau berkata”meskipun engkau tak meminta, do’a ku senantiasa mengalun dalam tiap shalatku”. Aku tak sanggup lagi berkata apapun, yang aku ingat suaramu begotu lembut, begitu menjerat dan akhirnya menjadikanku hanyut dalam sedih yang berlinang.
Ibu.....
Aku teringat, ketika aku ingin meninggalkan rumah dengan sedihnya engkau berkata”Nak, harapku engkau jangan melupakanku, meskipun suksesmu dalam bahagiamu”
Ibu...
Aku tak sanggup lagi berkata apapun catatan ini kusimpan rapi sebagai penyemangatku, aku yakin dengan do’amu akan kuraih sukses itu, aku hanya mampu menuliskannya dalam tinta yang tak mungkin engaku mengetahuinya. Ibu aku sayang kamu, rinduku dan salam sapaku untukmu, kuteteskan air mata kerinduanku padamu ibu, aku mencintaimu melebihi siapapun di dunia ini. Ibu sekali lagi kukatakan, aku merindukanmu...........
Masa dalam Tantangan
Siapa yang tak mau, siapa pula yang enyah, semua cerita dalam bingkai warna, semua masa dalam kesendirian, dalam bait2 rindu dalam malam yang kelam dari sebuah negeri di ujung barat pulau jawa, aku tertegun sejenak, dalam imingku masih terngiang begitu sayhdu tentang beberapa deretan kata..
MIMPI
HARAPAN
CITA2
CINTA
ILMU
semua masih jelas bertahta dalam hatiku, tiap hariku bahkan tiap detik dalam hidupku, semua masih tergambar begitu jelas, begitu rama menyapa kesendirianku, aku tersentuh dari beberapa penggambarannya namun sekali lagi kuabaikan, bahwa hidupku dirantau orang adalah perjuanganku dalam meraihnya, kuabaikan keluargaku, kuabaikan senyum semanagat mereka, walau begitu berat, namun inilah hidup, inilah perjuangan dan inilah tantangan, semua menyatu dan seolah memberi warna sendiri dalam hidupku di masa depan....Satu kata yang tergambarkan, Hidup adalah proses bukanlah hasil, bahwa hidup adalah tantangan bukanlah kesenangan, yang terpenting adalah bagaimana meraih keridohan Ilahi...Selamat berjuang Untuk hidupku, untuk diriku dan Untuk semangatku, hari masih panjang dengan sejuta suka dan duka dengan seintrik kejutan2nnya...Be urself and get ur dream, keep spirit and fighting....
MIMPI
HARAPAN
CITA2
CINTA
ILMU
semua masih jelas bertahta dalam hatiku, tiap hariku bahkan tiap detik dalam hidupku, semua masih tergambar begitu jelas, begitu rama menyapa kesendirianku, aku tersentuh dari beberapa penggambarannya namun sekali lagi kuabaikan, bahwa hidupku dirantau orang adalah perjuanganku dalam meraihnya, kuabaikan keluargaku, kuabaikan senyum semanagat mereka, walau begitu berat, namun inilah hidup, inilah perjuangan dan inilah tantangan, semua menyatu dan seolah memberi warna sendiri dalam hidupku di masa depan....Satu kata yang tergambarkan, Hidup adalah proses bukanlah hasil, bahwa hidup adalah tantangan bukanlah kesenangan, yang terpenting adalah bagaimana meraih keridohan Ilahi...Selamat berjuang Untuk hidupku, untuk diriku dan Untuk semangatku, hari masih panjang dengan sejuta suka dan duka dengan seintrik kejutan2nnya...Be urself and get ur dream, keep spirit and fighting....
di Pertengahan Desember
Desember Menggantung, sebuah memori, sebuah inspirasi
Aku termenung, ternyata ini adalah pertengahan Desember
Belum terpatri dalam sanubari, tapi inilah nyatanya...
Pertengahan Desember kelabu, hanya itu...
Aku berlari namun tak akan pernah sampai..
Desember, antara memori dan sebuah kenangan..
Antara cita2, cinta dan harapan..
Semakin tertegun, semakin renta namun tiada berdawai..
Semua menggantung, semua menyepi...
Begitu kelabu, begitu menyesakkan..
Tuhan, dalam kata aku terdiam..
Biar susah sungguh, namun kusadari aku pilu...
Semua hal ihwalku telah kusadari, namun hampa...
Tetap saja seperti ini, namun tiada berfaedah...
Desemberku malang, Desemberku kelabu...
Dengan cita2, cinta dan impian yang semakin kelam...
Aku tenggelam namun tiada yang berpaling..
Aku seolah tak lagi berhembus, namun tiada yang peduli..
Aku termenung, ternyata ini adalah pertengahan Desember
Belum terpatri dalam sanubari, tapi inilah nyatanya...
Pertengahan Desember kelabu, hanya itu...
Aku berlari namun tak akan pernah sampai..
Desember, antara memori dan sebuah kenangan..
Antara cita2, cinta dan harapan..
Semakin tertegun, semakin renta namun tiada berdawai..
Semua menggantung, semua menyepi...
Begitu kelabu, begitu menyesakkan..
Tuhan, dalam kata aku terdiam..
Biar susah sungguh, namun kusadari aku pilu...
Semua hal ihwalku telah kusadari, namun hampa...
Tetap saja seperti ini, namun tiada berfaedah...
Desemberku malang, Desemberku kelabu...
Dengan cita2, cinta dan impian yang semakin kelam...
Aku tenggelam namun tiada yang berpaling..
Aku seolah tak lagi berhembus, namun tiada yang peduli..
Rinduku Nabiku(Muhammad saw)
*)
Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kutatap wajahmu
Kan pasti mengalir air mataku
Kerna pancaran ketenanganmu
Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kukucup tanganmu
Moga mengalir keberkatan dalam diriku
Untuk mengikut jejak langkahmu
**)
Ya Rasulullah... ya Habiballah...
Tak pernah kutatap wajahmu
Ya Rasulullah... ya Habiballah...
Kami rindu padamu
***)
Allahummu sholli 'ala muhammad
Ya robbi sholli 'alaihi wasallim
Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kudakap dirimu
Tiada kata yang dapat aku ucapkan
Hanya Tuhan yang saja yang tahu
Back to **)
Kutahu cintamu kepada ummat
Ummati... ummati...
Kutahu bimbangnya kau tentang kami
Syafaatkan kami
Back to *) - **)
Ya Rasulullah... ya Habiballah...
Terimalah kami sebagai umatmu
Ya Rasulullah... ya Habiballah...
Kurniakanlah syafaatmu
Back to ***)
sejenak kutersentuh akan alunan ini, andaikan kubisa bertemu dengan baginda Nabi, saya tak akan berpaling darinya, Ya Nabiyullah, Aku rindu padamu, aku rindu lantunan kelembutanmu, enbgkau adalah ketenangan bagi segenap manusia di dunia, Aku hanya bisa berharap suatu saat dipertemukan denganmu, walaupun aku tau itu teramat sulit bagiku yang bergelimpangan dosa. Wahai Nabi kekasih Allah, semoga rahmat dan KasihNya senantiasa tercurah bagimu dan keluargaMu, aku harapkan syafaatmu, sesungguhnya engkau adalah sebaik2nya pemimpin...
Sabtu, 15 Desember 2012
Empat Jempol Untukmu
Masihka kau ada di negeri ini
Dalam kepekaan malam yang hadir tanpa makna......
Menyeruak dan pada akhirnya terjatuh terpanah........
Membrontak dengan launan kata yang begitu lembut............
Masihkah kau ada di negeri ini...
Ketika hati hanyalah milik belanta2 belundak......
Dimana optimisme hanya hadir dalam lamunan belaka..........
Luluh lantah semakin menepi bersama buih2 kmelaratan.....
Mungkin adakah,daya tanpa usaha......
Ketika nyawa hanyalah sepenggal leher.......
Kuhanya bisa berkata adakah dirimu dalam gelap itu...
Kuhanya bisa berharap kau hadir,dengan senyum sejuta makna.....
Dirimu adalah lawan anarkisme.......
Dikau adalah lawan kapitalisme yang semakin mengglobal
Dengan mata dan tidakanmu.....
Dengan teriakan dan alunan nafasmu kau menyeruakkan kebenaran..
Kaulah pahlawan yang tak terbantahkan............
Agent of change................
Moral force..............
Sosial of control...................
Masikah ada dalam benakmu..
Dalam setiap derak langkahmu.........
Ataukah haruskah kuagungkan empat jempolku..
Untuk hadirmu sebagai pembuka tabir kelam.......
Makna hadirmu adalah makna kehidupan.........
Jangan dengarkan mereka yang berkata buruk tentang......
Acungkan tangnmu raih simpati mereka..............
Hingga akhirnya tabir kelam itu tersingkir dan akhirnya meratap terang.........
Jumat, 14 Desember 2012
RETORIKA DUNIA
Batu hitam itu sama sekali tak punya perasaan, mereka membiarkan saja lumut dan sejumlah makhluk laiinya menggerogoti tubuh mereka. Mereka hanya melihatku berada dalam ketidakadilan. Batu hitam itu adalah tak sanggup aku melihatnya. Kelam itulah penggambaran jiwanya. Hatiku sungguh terpaut pada ketidakmampuannya berkata tidak pada setiap tindakan buruk yang akan terjadi padanya. Malapetaka adalah kehadirannya beserta ketidakmampuannya. Tubuhnya tak pernah menggigil dalam hamparan hujan yang tak jelas permasalahnnya. Kehidupannya tak mampu iya junjung tinggi meskipun orang-orang mengaggapnya tak hidup. Dunia sunggu tak adil pada batu hitam itu dan diriku. Andaikan bisa aku hanya ingin bercerita padanya tentang aku dan kehidupanku saat ini. Tapi sekali lagi aku katakian mereka, batu hitam itu tak akan pernah mau peduli denganku. Perihal diriku dan batu hitam itu mereka terobsesi pada keadaan yang tak mungkin mereka fahami. Tuhan begitu adil pada mereka namun tidak denganku dan batu hitam itu. Seyognyanya Tuhan masih menganggapku ada itulah sekedar rasa syukurku pada;Nya. Batu hitam itu tak pernah kubayangkan bisa memberi sejuta inspirasi yang terama meyakinkan. Mereka berkata dalam ketidakadilan. Tuhan aku dan batu hitam itu hanya mengharapkan sebuah keadilan yang hnya bisa aku angankan. Tuhan sejuta harapanku adalah mimpiku yang tak pernah akan engkau lepaskan dari pelukanmu. Aku masih berharap Batu hitam itu adalah ujung takdirku yang penuh asa berharap pada-Mu...
Esensi Hidupku
Aku tak tahu apa yang mesti aku katakan pada setiap desiran ombak di pantai, pada setiap nyanyian burung malam,pada setiap kerinduan buaian sang lembayu,pada setiap kobaran angin lampau,pada setiap senyuman sang mentari dan pada setiap rintihan tangis yang aku sendiri tak mengetahuinya. Aku kini berada dalam genggaman diriku sendiri, dengan pandangan tanpa arti dari sejuta makhluk, itulah yang kurasakan. Namaku Andi Baso Manguntungi Salewangang aku terlahir atas keinginan Tuhan yang dimanifestasikan kepada kedua orang tuaku, aku terlahir atas dasar cinta mereka dan aku sendiri terpukau akan kemelut hidupku yang aku belum tau itu semua untuk apa. Semua hanya keinginanku untuk tetap bertahan hidup, pada setiap perkataanku yang aku sendiri tak memahaminya.Semua yang kurasakan saat ini hanyalah rumoritas semata, hanyalah formalitas yang tak berujung. Kutau kini mereka hanya memahami aku dari luar itulah keterbatasan mereka dan aku sendiri memahami diriku sendiri tapi aku tak tau bagaimana aku bisa merealisasikan makna kesenjangan jiwaku saat ini, maka aku hanya ingin berkata inilah keterbatasanku. Kalau dikatakan berbeda, aku cukup berbeda dari makhluk lainnya, aku tak tau kelebihanku sepertia apa, dan aku sendiri tak memahami kekuranganku sendiri. Tuhan dan aku adalah ada pada setiap detakan waktu dimana aku hanya bisa menengadah terhadapnya, hanya bisa berteriak pada-Nya mesti saat ini saya belum tau esensi keberadaan Tuhanku sendiri. Aku Makhluk yang aku sendiri tak mengerti apa esensiku. Disekitarku mereka mengatakan seperti inilah aku, tapi aku sendiri belum mengerti apa maksud mereka. Tuhanku, adakah nyawaku saat ini karena yang kurasakan hanyalah kehampaan, hidupku terasa tanpa warna, sunggu buram. Aku memiliki teman hanyalah sebuah formalitas semata, canda tawaku terhadap mereka hanyalah kepalsuan belaka. Hidupku kini menyeruak diantara kebisingan yang aku sendiri tak mengerti asal kebisingan itu. Kalo aku hendak berkata maka aku hanya ingin berkata nasibku adalah harapanku, mereka mengatakan bahwa aku adalah manifestasi dari jiwa-jiwa yang gentayangan seolah tau padahal mereka tak tau. Aku tekankan aku saat ini adalah penjelmaan dari manusi-manuisia tak jelas yang memandang hidup hanyalah sebuah formalitas. Kata teman, sahabat bahkan saudara sendiri hanyalah padanan kata yang tak jelas untukku yang tak memiliki makna. Tuhan alangkah kejam dirimu terhadapku, meskipun engkau berikan kemudahan yang sunggu nyata tapi yang kurasakan adalah malapetaka yang tiada berujung. Dengan ini semua aku hanya ingin mengucapkan Terimah kasih kepada terdekatku yang hanya aku jadikan sebagai formalitas semata dan kepada Tuhan yang telah memberikanku kehidupan yang sampai saat ini belum kuketahui apa maksudnya...
DALAM SUDUT GELAP ITU
Rasakan jiwaku pada setiap sudut-sudut gelap itu...
Pada kesepian yang terpendam dalam kabut....
Kembali terngiang dalam sanubari, setiap detakan jantung yang begitu menghimpit....
Kembalikan sudut-sudut malam itu pada rana-rana keistimewaan yang kubuat sendiri.....
Ah....
Apa daya.......
Ketika kemelaratan telah menghuni tiap sudut-sudt gelap itu.....
Masih sangat terniang kawan ketika semua kita anggap hanya sebuah mimpi..
ketika kita berkata masih adakah malam itu, ketika kita hadir bersama dalam buaian canda tawa....
Masih ingatkah kawan ketika kita lihat fenomena angin puting beliung itu...
Ah apa guna kusesali sekarang semua hanya tinggal puing-puig tak bermata..
semuakini hanya tinggal kenangan
yang kutau kini aku telah terdekap dalam sudut-sudut gelap itu.....
Aku dan Kaleng Pemberianmu
Tidakkah kau lihat kawan lekuk-lekuk kota yang begitu tajam, disini kuenunggu dengan penuh harapan.....
kutuliskan pada sebuah dinding-dinding retak tanpa nahkoda, yang kulihat hanyalah barisan-barisan lumut yang bersrakan....
Kulihat hari ini adalah ketidakmampuanku untuk berkata, ketika yang kulihata hanyalah lalu lalang kendaraan yang sama sekali tiada irama....
sesekali dentingan suara riuh gemura datang memngampiri, tapi aku masih tetap berdiri disini untukmu kawan dan untuk kita berdua.....
Yang ingin kulihat hanya langkahmu yang gontai, hanya senyummu yang beg manis dan tawamu g mengusik rasa gunda dalam sanubari........
Tapi hari ini, detik ini masih saja bigitu,masih saja suara mobil yang tak berirama, masih saja bersama lumut yang berbris di dinding tanpa aturan.....
Aku disini masih bersama kehangatan persahabatan yang kau berikan....an
Masih bersama keelokan paras senyumannmu....
Meski suara mobil yang tak berirama itu meski lumut yang tak beratutaturan itu..
Kau tetap kunanti....
Kurindukan saat kita makan bersama sambil terrtawa......
Saat kita menghitung jumlah mobil yang tak beraturan itu.......
Saat mencabuti lumut-lumut yang tak beraturan itu.........
Aku masih menunggumu sobat dengan sejuta harapan dan kaleng pemberianmu......
DILEMA MAHASISWA AKTIVIS : ANTARA BENTROK, GENGSI DAN PRESTASI
Pengakuan atas efektivitas mahasiswa dalam perannya sebagai agen of change, social control dan moral force tak lagi seperti pada masa kejayaannnya yaitu pada Zaman Soeharto. Mahasiswa selalu menjadi bagian dari perjalanan sebuah bangsa. Roda sejarah demokrasi selalu menyertakan mahasiswa sebagai pelopor, penggerak, bahkan sebagai pengambil keputusan. Hal tersebut telah terjadi di berbagai negara di dunia, baik di Timur maupun di Barat. Mahasiswa biasanya memerankan diri sebagai golongan yang kritis sekaligus konstruktif terhadap ketimpangan kebijakan sosial politik dan ekonomi. Mahasiswa sangat tidak toleran dengan penyimpangan apapun bentuknya dan nurani mereka yang relatif masih “suci” dengan sangat mudah tersentuh sesuatu yang seharusnya tidak terjadi namun ternyata itu terjadi atau dilakukan oleh oknum atau kelompok tertentu dalam masyarakat dan pemerintah. Pemikiran kritis, demokratis, dan konstruktif selalu lahir dari pola pikir para mahasiswa. Suara-suara mahasiswa kerap kali merepresentasikan dan mengangkat realita sosial yang terjadi di masyarakat. Sikap idealisme mendorong mahasiswa untuk memperjuangkan sebuah aspirasi pada penguasa, dengan cara mereka sendiri, hal inilah yang kemudian yang telah hilang dari esensi nilai-nilai kemahasiswaan.
Demoralisasi tatanan nilai-nilai etika kemahasiswaan adalah bentuk ketidakfahaman akan realitas mahasiswa yang sesungguhnya. Bermacam persepsi muncul dari berbagai kalangan ada yang menyatakan hal ini dikarenakan oleh krisis akhlak, kurangnya pemahaman terhadap nilai-nilai pendidikan serta banyak lagi yang lainnya yang tentunya mengarah pada merosotnya tatanan nilai-nilai kemahasiswaan. Demonstrasi mahasiswa hari-hari belakangan ini sedang disorot publik. Berulang kali kegiatan tersebut berujung bentrok. Hal ini dijadikan indikator oleh sejumlah pihak bahwa Gerakan Mahasiswa semakin radikal. Terdapat pula analisis mengapa demonstrasi mahasiswa seringkali berakhir dengan baku hantam, misalnya analisis psiko-lapangan, yakni baku hantam terjadi karena semata-mata konsekuensi dari ‘kondisi lapangan yang tidak terduga’. Meski dapat diterima, tesis psiko-lapangan saja belum cukup menjelaskan mengapa Gerakan Mahasiswa mengambil sikap ‘siap’ bentrok dengan aparat. Bentrok antar mahasiswa pun menjadi satu diantara banyak contoh ketidakfahaman realisasi kemahasiswaan, baik bentrok internal maupun eksternal kampus. Pada dasarnya ketika terjadi suatu peristiwa atau masalah, pemahaman terhadapnya tergantung dari kaca mata apa yang dipergunakan oleh sang penilik. Bahkan suatu peristiwa yang samapun akan menuai pemahaman yang berbeda pula.
Mahasiswa memang menjadi komunitas yang unik di mana dalam catatan sejarah perubahan selalu menjadi garda terdepan dan motor penggerak perubahan . Mahasiswa dikenal dengan jiwa patriotnya serta pengorbanan yang tulus tanpa pamrih. Pilihan strata demonstrasi setidaknya disebabkan empat hal: Pertama, kepada pihak dilawan demonstrasi masih diyakini sebagai taktik-penekan yang efektif terutama bila dilakukan secara massif dan dengan besaran massa yang besar. Kedua, secara internal demonstrasi menjadi wahana konsolidasi antar aktivis sekaligus wahana eksistensi lembaga organisasi mahasiswa. Sudah jamak dalam Gerakan Mahasiswa bila organisasi mahasiswa tidak cepat merespons situasi, maka tuduhan bahwa Gerakan Mahasiswa memiliki tujuan yang melenceng dari azas perjuangan nasib rakyat justru akan menguat. Demonstrasi menjadi jawaban taktis terhadap ‘tuduhan’ ini. Ketiga, kepada masyarakat, demonstrasi apalagi jika berakhir bentrok dapat membangkitkan solidaritas publik dan menjadi sikap perlawanan masyarakat (untuk mendukung mahasiswa). Karena itu bentrok yang terjadi bukan tidak mungkin telah direncanakan terlebih dahulu.
Pada periode 1966 misalnya, Gerakan Mahasiswa dianggap radikal karena berani berbeda sikap dengan penguasa. Radikalitas Gerakan Mahasiswa ditandai dengan serangkaian demonstrasi hampir setiap hari, diantaranya memang berakhir bentrok dan menewaskan sejumlah mahasiswa dan pelajar yang kemudian kita anugerahi gelar Pahlawan Ampera. Pada periode ini, sayap pemuda sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan banyak melakukan strata ‘perlawanan’ dengan kekerasan bahkan pembunuhan aktivis partai komunis. Namun emblem gerakan radikal justru disematkan pada Gerakan Mahasiswa. Menjadi jelas, bahwa radikalitas Gerakan Mahasiswa diukur dari dua hal: derajat perlawanan dan derajat intelektualitas. Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa di dalam diri manusia terdapat segumpal darah, jika itu baik maka baiklah seluruh amal perbuatannya, dan jika rusak maka rusaklah seluruhnya dan segumpal darah itu adalah hati. Hadis tersebut akan sangat menarik jika kita gunakan sebagai kacamata dalam melihat berbagai permasalahan yang ada di negeri ini. Mahasiswa yang dalam kehidupannya tidak dapat memberikan contoh dan keteladanan yang baik berarti telah meninggalkan amanah dan tanggung jawab sebagai kaum terpelajar . Jika hari ini kegiatan mahasiswa berorientasi pada hedonisme (hura-hura dan kesenanggan) maka berarti telah berada di persimpangan jalan. Jika mahasiswa hari ini lebih suka mengisi waktu luang mereka dengan agenda rutin pacaran tanpa tahu dan mau ambil tahu tentang perubahan di negeri ini, jika hari ini mahasiswa lebih suka dengan kegiatan festival musik dan kompetisi (entertaiment) dengan alasan kreatifitas, dibanding memperhatikan dan memperbaiki kondisi masyarakat serta mengalihkan kreatifitasnya pada hal-hal yang lebih ilmiah dan menyentuh kerakyat maka mahasiswa semacam ini adalah potret “generasi yang hilang “yaitu generasi yang terlena dan lupa akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang pemuda dan mahasiswa.
Sesibuk apapun mahasiswa, turun ke jalan, turun ke “rakyat” dengan aksi sosialnya, sebanyak apapun agenda aktivitas yang dilakoni jangan sampai membuat mahasiswa itu lupa bahwa ia adalah seorang insan akademik. Mahasiswa dengan segala aktivitasnya harus tetap menjaga kuliahnya. Setiap orang tua pasti ingin anaknya selesai kuliah dengan cepat dan menjadi orang yang berhasil. Maka sebagai seorang anak berusahalah semaksimal mungkin untuk dapat mewujudkan keinginan itu, untuk mengukir masa depan yang cerah. Peran yang satu ini teramat sangat penting bagi kita, dan inilah yang membedakan kita dengan komunitas yang lain, peran ini menjadi simbol dan miniatur kesuksesan kita dalam menjaga keseimbangan dan memajukan diri kita. Jika memang kegagalan akademik telah terjadi maka segeralah bangkit, ”jika nasi sudah jadi bubur” maka bagaimana sekarang kita membuat bubur itu menjadi “bubur ayam spesial“. Artinya jika sudah terlanjur gagal maka tetaplah bangkit seta mancari solusi alternatif untuk mengembangkan kemampuan diri meraih masa depan yang cerah dunia dan akhirat.
PERSEMBAHAN TERINDAH UNTUK SAHABAT TERBAIK
Airmata adalah bahasa hati, saat ia menetas menelusuri pipi diringi nafas yang tersedu. Itulah bahasa, kejujuran cerminan hati yang lembut, yang mencintai keindahan.
Biarkan ia menetas hingga resah itu hilang. Jika resah itu masih bersemayam, biarkan dia mengadu kepada peraduan trindahnya. Allah. Allahlah tempat mengadu.
Saat logika tidak menerima, segera redam kegelisahannya dengan Shalat.
Temui RABBmu disana, dan katakanlah.. ungkapkanlah.. curahkanlah titik titik di sudut matamu, lalu bangkit dan keluarlah, perhatikan kembali pagi atau siang yang terseyum kepadamu, lalu tersenyumlah, perlihatkanlah seakan semua baik baik saja.
Dan katakan pada dirimu, "Aku baik baik saja!"
Jangan cengeng, sadarilah bahwa hari ini kamu masih hidup di dunia ini.
Masih ada hari besok dan hari yang lain.
***
Segera Kenali Cintamu.
Perhatikan saja lukisan lukisan senyum dihatimu,
Atau getaran yang menghangatkan sudut sudut hatimu..
Itulah bahasa cinta.
Cinta adalah jelmaan dari fitrah manusia, kita tidak perlu guru untuk belajar mencintai, tunas tunasnya telah tertanam dalam penciptaan Manusia hingga semua memilikinya. Tidak usah membebani dirimu untuk menolaknya, kita hanya harus mengarahkannya.
Cinta akan mengajarimu terbang dengan sayap indahnya, melintasi harapan harapan..
Tapi diatas sana kamu butuh keseimbangan, dari ketinggian itu kamu harus tahu cara untuk kembali kebumi. Jangan heran jika cinta-mu yang salah itu akan meninggalkanmu disana, di tempat yang tidak kamu kenal. Sementara kamu harus kembali terbang kebumi..
Persiapkanlah sayap untuk pulang itu sebelum cintamu terjatuh,
Sebelum cinta menjatuhkanmu..
***
Maksimalkan professionalitas dalam beramal,
Jaga kadar keikhlasan dan keistiqamahan. Taburkan senyum yang berkualitas disetiap permulaannya, dan tanamkan positive feeling disetiap kegagalannya untuk meredam keresahan dan kekhawatiran. Insya Allah, tunas tunas kebahagiaan akan bertebaran disetiap jalanan yang kalian lalui.
***
Hati adalah laksana sebuah cermin,
Jika kita bersihkan tiap hari dia akan bening.
Jika kita lupa membersihkannya dia akan berdebu, jangan biarkan tetap dingin karena debu debu itu berkumpul bersama larutan dan tepiannya akan berkarat, dalam kondisi penuh karat itulah hati terasa sakit saat seseorang mencoba menyentuhnya kembali.
Hangatkanlah sebelum hatimu mengkarat.
***
Jadilah orang pertama yang peduli atas hatimu sendiri.
Arahkan hatimu, jaga hatimu, sayangi hatimu, cintai hatimu, dan dengarkanlah nasihatnya mintalah fatwanya.
Jika dinding itu bergetar lagi, atas debaran debaran yang tidak pernah engkau rencanakan, redamlah lagi, karena dia tidak bisa berkata kata saat tersentuh nafsu.
***
Ingatlah...
Cinta, dan kebencian adalah tenaga natural spektakuler yang menggerakkan kehidupan.
Manusia yang cerdas adalah mereka yang mampu mengalirkan energi besar dari 'kebencian yang mendalam' kepada titik pencapaian yang ia tuju.
***
Jalanan ini indah kawan..
Hidup ini sulit dan Islam telah memudahkan dengan kesempurnaannya, temukan kebahagiaan didalam Islam-mu, temukan kebahagiaan dalam Dirimu. karena jika kamu mencari kebahagiaan diluar dirimu, maka kamu akan menemukan kebahagiaan itu selalu milik orang lain..
SELAMAT DATANG DI KAMPUNG BAHASA
Anganku masih terngiang dengan begitu jelas, ketika aku melangkah begitu gontai di malam yang sunyi bertaburan bintang, menghitung detakan jantung laksana irama yang tak bisa aku mengerti, dalam hati dan pikiranku hanya tertuju pada sebuah alasan yang sampai saat ini akupun tak sanggup memahaminya. Kala hati berselimutkan gundah, kala sempurna teramat jauh dari pelupuk mata, kala mentari begitu lama tiada bersinar, tak nampaklah hal ikhwalku kenapa aku harus memilih jalan ini. Di depan pintu pelabuhan itu aku termangu, meratap suram tanpa perkataan sekatapun, hanya desiran angina ombak yang begitu lembut menyapa tubuhku, tanpa sadar sedikitpun, aku telah jauh mengarunginya, berjalan dengan arah yag jelas namun aku tak mampu memahaminya, aku seakan hidup dalam sebuah titik ketidakjelasan, aku berdiri lalu tegap, kupandangi tubuhku, kian melemah dengan seonggok harapan, arah dan tujuan yang aku tak sanggup menembus seberapa dalamnya.
Sunyinya alam semesta, yang bertaburan tetumbuhan maya pada, terbentang luas cakrawala hijau sebagai naungan semesata alam yang bertasbih di tanah jawa ini, kumulai langkahku dengan kembali pada diriku sendiri, aku begitu banyak melupakan hal yang semestinya aku ingat. Sebuah kesadaran kadang aku tak bisa memungkiri bahwa aku masih begitu jauh dari titik kesempurnaan, semua senyap, gaduh dan pada akhirnya tak dpat kuingkari bahwa aku belum mengenal duniaku saat ini. Kumulai kisah ini kawan dari sekantong harapan orang tuaku, dari dukungan sahabat-sahabat yang teramat mencintaiku, kulukiskan semua dalam kesedihan yang yang teramat mendalam meninggalkan kampong halaman tercinta, serta kupersembahkan semuanya pada harapan dan keinginanku yang begitu kuat. Aku berjalan begitu lumrahnya seorang pemuda Makassar Butta Salewangang yang begitu besar, dengan sapaan Andi Baso Manguntungi Salewangang, itulah orang-orang memanggilku, kumantapkan langkahku, sesuai dengan namaku, kuarungi kata demi kata dalam perjalanan yang panjang itu dengan sebuah kesederhanaan pandangan yang belum begitu jelas.
Inilah kawan hidupku dirantau orang, hidup yang begitu teramat menjanjikan, dari sini akan kulikiskan sebuah kalimat yang begitu menyentu, “Aku ingin bisa seperti mereka” Inilah dasarku kawan, inilah keinginanku, aku melihat sosok yang begitu mengagumkan dalam pandanganku, hingga akhirnya tibalah aku dalam peraduan senja di tanah kelahiran orang-orang yang begitu asing bagiku, kuhirup udara seakan aku tak lagi menhirup sebuah gas yang terdiri dari dua atom oksigen, tidak lagi menghembuskan gabungan satu atom karbon dan dua atom oksigen. Inilah kisahku kawan, kukisahakan pada kalian, karena aku yakin kalian begitu berharga bagiku, selalu dalam sanubariku, selalu menyentuh zona-zona ternyaman dalam hatiku. Kulukiskan sejuta mimpi dalam senjaku, kuwariskan beribu cita bagimu kawan, kutawarkan beribu harapan untukmu. Di tanah orang ini, ditanah jawa yang begitu melekat dengan esensi kependidikannya, aku menitik langkah gontaiku yang begitu syahdu, sembilunya akan kalian fahami setelah kalian tahu apa maksud hatiku berkata seperti ini melalui tulisan tinta hitam yang begitu sederhana. Engkau harus tahu kawan, aku menulis secarik pelipur lara ini dalam kelamnya malam, dalam dinginnya angin pare yang begitu menusuk tulang-belulangku, sebagai manifestasi dari saran seorang teramat bijaksana bagiku, yang telah melukiskan keinginannya padaku sebagai seorang penulis, padanya kuucapkan terima kasih.
Kembali lagi kawan, dalam ketidakberdayaan kudatangi tempat ini dengan niat yang begitu tulus mengalahkan sapaan mentari di pagi hari yang buta, mengalahkan teriknya matahari ditengah terik yang menghanguskan haluan peraduan, inilah aku perkenalkan kepada kalian kampong yang teramat tak asing bagi kalian, yang dikenal ratusan jiwa penduduk mayapada sebagai”KAMPUNG BAHASA” sebuah kampung yang teramat sulit aku menggambarkannya dalam sebuah kata2 indah puitisku, dengan sebuah lantunan ironi instrument music yang menurut orang menggalaukan hati. Kulukiskan seribu kisah kawan, diantara sejuta inspirasi yang teramat mendalam, kudapatkan sejuat harapan yang sebelumnya hayalah seonggok, aku kembali termangu ketika melihat tulisan”SELAMAT DATANG DI KAMPUNG BAHASA” dalam benakku berkata inilah yang aku inginkan, meskipun saat itu aku belum tahu apa yang mesti aku lakukan, aku tak mampu menggambarkan begitu besar rasa ingin tahuku saat itu, yang aku bisa gambarkan hanyalah berapa besar rasa raguku menghampiri detak-detakan langkahku sendiri.
Inilah kawan, kampong bahasa, kampung yang bgitu kecil dengan semangat perubahan yang begitu besar, kampung yang berisikan orang-orang yang merasa kecil dengan sebuah kekuatan yang teramat besar, kulukiskan semua agar kalian tahu inilah yang sebenarnya, inilah realitanya, inilah konsekuensi dari setiap orang yang ingin berlabuh pada sebuah kalimat-kalimat perjuangan. Semangat yang begitu besar, mengalahkan panasnya terik di kapung kecil ini, proses penghitaman kulit tak akan menyurutkan langkahku dalam mengayuh sepeda tuaku, yang terbayang hanyalah harapan orang tuaku, hanyalah dukungan kawan seperjalananku, serta santunan dari saudara-saudara yang mengasihiku. Masih terngiang begitu jelas kalimat seorang guru yang begitu arif bijaksana ”Bayangkan Engkau Pulang Di Dirumahmu, dan Orang tuamu datang di Belakangmu dan Menepuk Bahumu sambil Berkata Aku Bangga Padamu” BERSAMBUNG……
KISAH KLASIK ADRENALIN 07
Sebuah kenangan akan terpatri dalam sanubari yang teramat indah keprsembahkan padamu yang paling berharga dalam hidupku, sebuah kebersamaan, kekuatan yang terlaksa dalam kebimbangan dan kesendirian. Tulisan uni keprsembahkan padamu yang terindah ADRENALIN 07.
Ketika ditanya tentang kesan seseorang mengenai masa-masa kuliah, mungkin kebanyakan jawaban yang timbul adalah : “Menarik”, “tak terlupakan”, “wah,,,masa-masa indah…” dan banyaaak versi ungkapan-ungkapan yang muncul sesuai dengan latar belakang pengalaman dan kisah yang berbeda. Namun semuanya sepakat, bahwa kuliah adalah masa-masa yang tak terlupakan. Dan itu memang benar adanya. Dahulu, ketika langkah-langkah polos kita mulai menapaki rajutan hari-hari di kampus, tak pernah terpikirkan bahwa tiap detik yang kita lalui saat itu, kelak akan menjadi hal-hal yang akan sangat kita rindukan pada 5, 10, 15, atau 20 tahun mendatang. Setiap jengkal kejadian, baik itu kisah sedih, menyenangkan, pahit, marik untuk diceritakan KELAK ketika kita sudah tidak bisa lagi melalui semua penngalaman itu.
Siapa sangka, pengalaman ketika dimarahi senior pada saat ospek yang sangat membuat kita kesal, sekarang kalau difikir-fikir malah membuat kita tertawa sendiri. Siapa sangka, ketika pikiran polos kita sudah terkontaminasi dengan keinginan bolos, cabut, nyontek, suka membantah perkataan dosen, yang ujung-ujungnya adalah Skors, dihukum, kena marah…(ahh, menyakitkan memang), tetapi semua itu sekarang bak sebuah kisah manis yang sangat seru untuk diceritakan, Atau pengalaman ketika menjadi seorang bintang kelas, aktifis kampus, ikut berbagai kegiatan dan perlombaan,,,telah meninggalkan seraut kebanggan di memory-memory otak kita.
Sebentuk persahabatan sejatipun telah kita bina di indahnya masa-masa kuliah. Teman yang bukan hanya sekedar pelepas tawa, namun juga hadir di kala kita berduka, yang bersedia menyediakan pundaknya ketika kita butuh sandaran. Bahkan menjadi teman seperjuangan yang turut andil dalam meramaikan jagat kenakalan-kenalakan remaja yang kita lakukan. Bahu membahu ketika, membuat setumpuk laporan di kelas,ketika ujian, dan lain sebagainya.Kemana lagi akan kita cari sahabat seperti itu selepas masa-masa kuliah???
Dan, sekelompok orang tua kedua yang kita panggil dengan sebutan “Bapak” dan “Ibu” itulah dosen … Kasih sayang dan jasanya kepada kita sungguh luar biasa. Hmmmm…walaupun terkadang kita mengikuti pelajaran beliau dengan adegan tambahan “terkantuk-kantuk”, diiringi rasa bosan, jenuh, bahkan lebih ekstrimnya lagi kita meninggalkan beliau yang dengan kesungguhannya sedang mengajar, untuk sekedar nongkrong di kantin,ngaso di perpus, tidur-tiduran di Mushala, atau nekat pulang ke rumah dan gak balik-balik lagi ke kampus (sinonimnya CABUT)
Jika seorang pemikir ulung mengatakan bahwa ”future is’nt to be found, but to created” mungkin itu benar adanya. Dan tahukah kawan, secara tidak langsung, masa-masa kuliah merupakan bagian dan langkah untuk kita mencapai kondisi seperti saat ini. Masa-masa kuliah turut berkontribusi untuk menciptakan ”kita” yang seperti ini. Maka patutlah rasanya jika kita mengucapan terimakasih kepada dosen, sahabat, semua civitas akademika, yang turut andil mewarnai kehidupan kita dengan hitam, putih, merah, birunya dunia.
Klise memang, namun begitulah adanya. Sepahit, seburuk, semanis apapun kenangan itu, kenangan tinggalllah kenangan… dan setiap kenangan itu tak kan pernah terulang persis sama seperti dahulu…Namun ada satu teori konsep kenangan yang sepertinya harus kita sepakati, bahwa; kenangan bukanlah untuk dilupakan…Biarkan menjadi sebentuk kisah, SEBUAH KISAH KLASIK UNTUK MASA DEPAN… Sebuah kisah klasik yang akan kita ceritakan kepada anak, cucu kita kelak.
Andai ada satu hariiiiiiiiiiiii saja untukku dapat mengulang kembali indahnya masa kuliah, duduk tenang di dalam ruangan, laboratorium, mengerjakan laporan yang seolah menjadi beban seumur hidup, bercanda ria dengan teman, ke kantin bareng, gila-gilaan bareng... Hmmmm....andai itu benar-benar terjadi. Tapi kutahu itu semua hanya mimpi. Tidak mungkin bisa benar-benar mengulang kembali... Tuhan, jika memang begitu, jangan hapus memory-memory itu. Biarlah tersimpan abadi di otakku, agar aku bisa mereplay ulang kembali semua peristiwa indah itu... Kisah yang terukir indah di bawah naungan acasiaku...
”Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kail, kita berbincang, tentang memory di masa itu,,,Peluk tubuhku, usapkan juga air mataku, kita terharu seakan tiada bertemu lagi. Bersenang-senanglah, karena hari ini yang kan kita rindukan, di hari nanti, sebuah KISAH KLASIK tuk masa depan. Bersenang-senanglah, karena waktu ini yang kan kita banggakan, di hari tua.....Sampai jumpa kawanku..Semoga kita selalu,,Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan....Mungkin diriku, masih ingin bersama kalian, mungkin jiwaku, masih haus sanjungan kalian”(Kisah klasik untuk masa depan, by; Sheila on 7)
Muhasabah Cinta
Hari ini kudengarkan lagi lagu kesukaanku,dngan lirik dan irama yg begitu memukau hati dan alam khayalku. Muhasabah Cinta ala Edcoustik dngan sejuta inspirasinya akan cinta, cita dan mimpi-mimpiku. Kulirik lagi kertas mimpiku yg terpajang rapi dalam kamar inspirasiku, dalam subuh yg indah di ramadhan kali ini, sekali lagi aku ktakan bhwa inilah keberadaan sosok yg begitu meyakinkanku. Tuhan...namamu teramat indah buatku,kupandangi sekali lg langit tempatku melambungkan khayal hingga kumanifestasikan dalam kertas harapanku. Kukemblikan hayalku pada sepucuk surat dari sebuah universitas, kupandangi sekali lagi sampai sampai akhrnya aku terlelap dalam tidurku yg penuh harap.
Tak terasa, sinar mentari telah berpadu dngan hangatnya angin kemarau yg menerpaku begitu lembut, kubangunkan tubuhku kuraih handphone yg sedari tadi mengisyaratkan tanda masuknya pesan dngan lagu muhasabah cinta tentunya,kubuka lalu kubaca baris perbaris tentunya. Betapa kagetnya aku, kulhat beberapa pesan dngan maksud dan tujuan yg sama"happy brithday"mataku terbelalak menatapnya,bru teringat ternyata hari ini hari dimana aku pertama kali mengumandangkan tangisan di persada bumi ini, dimana kulepaskan kertas perjanjianku dngan Tuhanku dan dimana aku terlahir dngan sejuta harap dari orang tua dan sembilan kakaku yg begitu aku cintai.
Kupandangi kertas mimpiku yg kini terlhat beberapa coretan,ku raih handphoneq, kubunyikan lagu muhasabah cinta, kali ini begitu lain, dngan nada, irama dan lirik yg sama tpi hatiku yg teramat penuh dngan haru biru. Kulangkahkan kakiku, kubuka kembli memori tahun silam, kurapatkan bola mataku pada tulisan "diberikan gelar sarjana sains" begitu terpesona aku dngan tulisan itu, kusujudkan tubuhku dngan segenap seluruh hati dan pikiranku. Bola mataku kini telah berlinang dngan air yg begtu hangat, dngan begitu lembut mematikan bakteri-bakteri yg menyertainya. Akhh..Tuhan,aku terlalu hina untk mendapatkan kemurahanMU yg begitu memanjakanku. Kudekapkan tubuhku pada Al-quran yg selama ini menuruti langkah-langkah perjuanganku. Tuhan aku tak sanggu berkata apæ2 lg ketika lagu muhasabah cinta telah sampai pada lirik"kata2 cinta terucap indah, mengalir berdzikir di kidung do'aku" dadaku begitu sesak, kelenjar lakrimalisku tak tertahankan lagi, sujud syukurku padaMU ya rabbi..
Aku bru tersadar ketika lagu muhasabah cinta telah hbis dilantunkan untk kesekian kalinya, kali ini kupandangi kertas mimpiku, kulihat dua harapan yg bru2 ini aku aku coreti dngan pena kesayanganku. Coretan ini adalah pada mimpi nmr 8 dan 9 yakni melanjutkan studi di pasca sarjana institut pertanian bogor dan program beasiswa unggulan dikti. Aku terpana alhamdulillah tahu ini adalah tahun emasku, tahun dmana beberapa bgian dari kertas mimpiku kini telah dibubuhi sebua coretan. Aku tertunduk sekali lagi, kulhat sekelilingku, kamar inspirasiku seakan tersenyum padaku.
Kembli kulayangkan pandanganku,kutatap jauh kedepan,kurasuki pikiranku sendiri, kusadari diriku mash sangat perlu berjuang, badai hidup di kejauhan sana tiada seorangpun yang tahu. Kuraih asaku, kuyakinkan hatiku bahwa shalat dan sabarku adalah penolongku,kudekapkan pikirku pada prinsipku bhwa dngan ilmu yg bermanfaa, matahari yg besar dan teramat panas itu dapat kita genggam.
22 tahun,agama baik rendah hati,dan berilmu insyaallah. Thanks atas do'anya wahai keluarga dan sahabat tercintaku..:-P
Langganan:
Postingan (Atom)
