Jumat, 14 Desember 2012

Esensi Hidupku



Aku tak tahu apa yang mesti aku katakan pada setiap desiran ombak di pantai, pada setiap nyanyian burung malam,pada setiap kerinduan buaian sang lembayu,pada setiap kobaran angin lampau,pada setiap senyuman sang mentari dan pada setiap rintihan tangis yang aku sendiri tak mengetahuinya. Aku kini berada dalam genggaman diriku sendiri, dengan pandangan tanpa arti dari sejuta makhluk, itulah yang kurasakan. Namaku Andi Baso Manguntungi Salewangang aku terlahir atas keinginan Tuhan yang dimanifestasikan kepada kedua orang tuaku, aku terlahir atas dasar cinta mereka dan aku sendiri terpukau akan kemelut hidupku yang aku belum tau itu semua untuk apa. Semua hanya keinginanku untuk tetap bertahan hidup, pada setiap perkataanku yang aku sendiri tak memahaminya.Semua yang kurasakan saat ini hanyalah rumoritas semata, hanyalah formalitas yang tak berujung. Kutau kini mereka hanya memahami aku dari luar itulah keterbatasan mereka dan aku sendiri memahami diriku sendiri tapi aku tak tau bagaimana aku bisa merealisasikan makna kesenjangan jiwaku saat ini, maka aku hanya ingin berkata inilah keterbatasanku. Kalau dikatakan berbeda, aku cukup berbeda dari makhluk lainnya, aku tak tau kelebihanku sepertia apa, dan aku sendiri tak memahami kekuranganku sendiri. Tuhan dan aku adalah ada pada setiap detakan waktu dimana aku hanya bisa menengadah terhadapnya, hanya bisa berteriak pada-Nya mesti saat ini saya belum tau esensi keberadaan Tuhanku sendiri. Aku Makhluk yang aku sendiri tak mengerti apa esensiku. Disekitarku mereka mengatakan seperti inilah aku, tapi aku sendiri belum mengerti apa maksud mereka. Tuhanku, adakah nyawaku saat ini karena yang kurasakan hanyalah kehampaan, hidupku terasa tanpa warna, sunggu buram. Aku memiliki teman hanyalah sebuah formalitas semata, canda tawaku terhadap mereka hanyalah kepalsuan belaka. Hidupku kini menyeruak diantara kebisingan yang aku sendiri tak mengerti asal kebisingan itu. Kalo aku hendak berkata maka aku hanya ingin berkata nasibku adalah harapanku, mereka mengatakan bahwa aku adalah manifestasi dari jiwa-jiwa yang gentayangan seolah tau padahal mereka tak tau. Aku tekankan aku saat ini adalah penjelmaan dari manusi-manuisia tak jelas yang memandang hidup hanyalah sebuah formalitas. Kata teman, sahabat bahkan saudara sendiri hanyalah padanan kata yang tak jelas untukku yang tak memiliki makna. Tuhan alangkah kejam dirimu terhadapku, meskipun engkau berikan kemudahan yang sunggu nyata tapi yang kurasakan adalah malapetaka yang tiada berujung. Dengan ini semua aku hanya ingin mengucapkan Terimah kasih kepada terdekatku yang hanya aku jadikan sebagai formalitas semata dan kepada Tuhan yang telah memberikanku kehidupan yang sampai saat ini belum kuketahui apa maksudnya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar