Senin, 17 Desember 2012

Daun Kering Di sudut Kota

Akupun tak tau, kalau sebenarnya aku adalah diriku....
Dalam kehampaanku, semua seakan tak ada.....
Hanya kelam.......
Dalam hatiku, akupun tak tau ada gumpalan daging berwarna merah...
Dalam mimpiku aku hanya tau, kau ada dalam kesepian batinku...
Meski rasa itu adalah maut bagiku, semua telah terukir dalam kitabku....
Pasrah.....
Tertunduk...
Diam....
Semua seakan ada di dalam ketidakpastian...
Semua hilang...
Semua lenyap....
Semua hanyut....
Matiku kini tak lagi ada..
Ketika mimpiku tak lagi dalam tidur....
Semua berharap...
Semua ingin...
Semua tak berpaling...
Langit sana tak lagi biru...
Tanah di sana tak lagi Merah...
Hujan di sana tak lagi pernah rintik...
Semua abu-abu...
semua mati..
samua hidup tapi tak mati....
Gelisah....
Bingung...
Melamun namun tak pasti....
Dalam batin mentari hanya ada kelam yang tak kunjung datang...
Berawal dari sebuah harapan, dan jatuh pada lubang harapan..
Ketidakpastian adalah awal nyata, ketika mata tak lagi terpejam...
Semua hilang terabaikan...
semua lenyak tak berbekas...
Kehidupan hanya satu, mesti semua hendak berkata mereka masih hidup...
Kasih sepanjang jalan,itupun hanya ungkapan
ketika mereka hanya sanggup berkata, bukanlah bumi tempatnya berpijak...
Kini pilu adalah obat derita
yang tertinggal hanyalah daun kering di sudut kota...
Semua terpedaya oleh angin yang tak menentu..
Janji-janji hanyalah sebuah harapan...
Meski tubuh adalah jaminan...
Meski raga tak lagi dipedulikan..
Yang mereka tau hanyalah kemunafikan...
yang mereka tau hanyalah kesenangan sesaat...
Yang mereka tau hanyalah birahi...
Lamunan mereka kini hanyalah sebuah ilusi..
Kembali berharap pada ketidakpastian...
Kembali berharap pada kezaliman...
Kembali berharap pada rumput yang tak lagi hijau...
Mati......
Diam...................
Maut................
Lemah...............
Wafat..............
Ketidakpastian
Harga mati adalah keinginan....
Dti-detik hijaupun semua tak lagi Pati...
Semua hilang, tapi tak lenyap.....
Kematian adalah simbol...
Tentang kita....
Tentang Mereka....
Dan tentang kita, mereka dan tntang dialetiaka daun tua....
Semua Beranjak.....
Semua Sendiri..
Akupun tak tahu lagi hidupku dalam daun kering di sudut kota itu....
TERINSPIRASI DARI RASA PENYESALAN YANG BERKEPANJANGAN, TERIMAH KASIH TUHAN KARENAMU AKU MASIH BISA MENULIS PUISI INI SEBAGAI UNGKAPAN HATIKU,PILUKU,KESENDIRIANKU, SEMUA TANGISKU, SEMUA HARAPANKU,DENGAN KUASAMU AKU AKAN HIDUP 1000 TAHUN LAGI....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar