Pengakuan atas efektivitas mahasiswa dalam perannya sebagai agen of change, social control dan moral force tak lagi seperti pada masa kejayaannnya yaitu pada Zaman Soeharto. Mahasiswa selalu menjadi bagian dari perjalanan sebuah bangsa. Roda sejarah demokrasi selalu menyertakan mahasiswa sebagai pelopor, penggerak, bahkan sebagai pengambil keputusan. Hal tersebut telah terjadi di berbagai negara di dunia, baik di Timur maupun di Barat. Mahasiswa biasanya memerankan diri sebagai golongan yang kritis sekaligus konstruktif terhadap ketimpangan kebijakan sosial politik dan ekonomi. Mahasiswa sangat tidak toleran dengan penyimpangan apapun bentuknya dan nurani mereka yang relatif masih “suci” dengan sangat mudah tersentuh sesuatu yang seharusnya tidak terjadi namun ternyata itu terjadi atau dilakukan oleh oknum atau kelompok tertentu dalam masyarakat dan pemerintah. Pemikiran kritis, demokratis, dan konstruktif selalu lahir dari pola pikir para mahasiswa. Suara-suara mahasiswa kerap kali merepresentasikan dan mengangkat realita sosial yang terjadi di masyarakat. Sikap idealisme mendorong mahasiswa untuk memperjuangkan sebuah aspirasi pada penguasa, dengan cara mereka sendiri, hal inilah yang kemudian yang telah hilang dari esensi nilai-nilai kemahasiswaan.
Demoralisasi tatanan nilai-nilai etika kemahasiswaan adalah bentuk ketidakfahaman akan realitas mahasiswa yang sesungguhnya. Bermacam persepsi muncul dari berbagai kalangan ada yang menyatakan hal ini dikarenakan oleh krisis akhlak, kurangnya pemahaman terhadap nilai-nilai pendidikan serta banyak lagi yang lainnya yang tentunya mengarah pada merosotnya tatanan nilai-nilai kemahasiswaan. Demonstrasi mahasiswa hari-hari belakangan ini sedang disorot publik. Berulang kali kegiatan tersebut berujung bentrok. Hal ini dijadikan indikator oleh sejumlah pihak bahwa Gerakan Mahasiswa semakin radikal. Terdapat pula analisis mengapa demonstrasi mahasiswa seringkali berakhir dengan baku hantam, misalnya analisis psiko-lapangan, yakni baku hantam terjadi karena semata-mata konsekuensi dari ‘kondisi lapangan yang tidak terduga’. Meski dapat diterima, tesis psiko-lapangan saja belum cukup menjelaskan mengapa Gerakan Mahasiswa mengambil sikap ‘siap’ bentrok dengan aparat. Bentrok antar mahasiswa pun menjadi satu diantara banyak contoh ketidakfahaman realisasi kemahasiswaan, baik bentrok internal maupun eksternal kampus. Pada dasarnya ketika terjadi suatu peristiwa atau masalah, pemahaman terhadapnya tergantung dari kaca mata apa yang dipergunakan oleh sang penilik. Bahkan suatu peristiwa yang samapun akan menuai pemahaman yang berbeda pula.
Mahasiswa memang menjadi komunitas yang unik di mana dalam catatan sejarah perubahan selalu menjadi garda terdepan dan motor penggerak perubahan . Mahasiswa dikenal dengan jiwa patriotnya serta pengorbanan yang tulus tanpa pamrih. Pilihan strata demonstrasi setidaknya disebabkan empat hal: Pertama, kepada pihak dilawan demonstrasi masih diyakini sebagai taktik-penekan yang efektif terutama bila dilakukan secara massif dan dengan besaran massa yang besar. Kedua, secara internal demonstrasi menjadi wahana konsolidasi antar aktivis sekaligus wahana eksistensi lembaga organisasi mahasiswa. Sudah jamak dalam Gerakan Mahasiswa bila organisasi mahasiswa tidak cepat merespons situasi, maka tuduhan bahwa Gerakan Mahasiswa memiliki tujuan yang melenceng dari azas perjuangan nasib rakyat justru akan menguat. Demonstrasi menjadi jawaban taktis terhadap ‘tuduhan’ ini. Ketiga, kepada masyarakat, demonstrasi apalagi jika berakhir bentrok dapat membangkitkan solidaritas publik dan menjadi sikap perlawanan masyarakat (untuk mendukung mahasiswa). Karena itu bentrok yang terjadi bukan tidak mungkin telah direncanakan terlebih dahulu.
Pada periode 1966 misalnya, Gerakan Mahasiswa dianggap radikal karena berani berbeda sikap dengan penguasa. Radikalitas Gerakan Mahasiswa ditandai dengan serangkaian demonstrasi hampir setiap hari, diantaranya memang berakhir bentrok dan menewaskan sejumlah mahasiswa dan pelajar yang kemudian kita anugerahi gelar Pahlawan Ampera. Pada periode ini, sayap pemuda sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan banyak melakukan strata ‘perlawanan’ dengan kekerasan bahkan pembunuhan aktivis partai komunis. Namun emblem gerakan radikal justru disematkan pada Gerakan Mahasiswa. Menjadi jelas, bahwa radikalitas Gerakan Mahasiswa diukur dari dua hal: derajat perlawanan dan derajat intelektualitas. Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa di dalam diri manusia terdapat segumpal darah, jika itu baik maka baiklah seluruh amal perbuatannya, dan jika rusak maka rusaklah seluruhnya dan segumpal darah itu adalah hati. Hadis tersebut akan sangat menarik jika kita gunakan sebagai kacamata dalam melihat berbagai permasalahan yang ada di negeri ini. Mahasiswa yang dalam kehidupannya tidak dapat memberikan contoh dan keteladanan yang baik berarti telah meninggalkan amanah dan tanggung jawab sebagai kaum terpelajar . Jika hari ini kegiatan mahasiswa berorientasi pada hedonisme (hura-hura dan kesenanggan) maka berarti telah berada di persimpangan jalan. Jika mahasiswa hari ini lebih suka mengisi waktu luang mereka dengan agenda rutin pacaran tanpa tahu dan mau ambil tahu tentang perubahan di negeri ini, jika hari ini mahasiswa lebih suka dengan kegiatan festival musik dan kompetisi (entertaiment) dengan alasan kreatifitas, dibanding memperhatikan dan memperbaiki kondisi masyarakat serta mengalihkan kreatifitasnya pada hal-hal yang lebih ilmiah dan menyentuh kerakyat maka mahasiswa semacam ini adalah potret “generasi yang hilang “yaitu generasi yang terlena dan lupa akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang pemuda dan mahasiswa.
Sesibuk apapun mahasiswa, turun ke jalan, turun ke “rakyat” dengan aksi sosialnya, sebanyak apapun agenda aktivitas yang dilakoni jangan sampai membuat mahasiswa itu lupa bahwa ia adalah seorang insan akademik. Mahasiswa dengan segala aktivitasnya harus tetap menjaga kuliahnya. Setiap orang tua pasti ingin anaknya selesai kuliah dengan cepat dan menjadi orang yang berhasil. Maka sebagai seorang anak berusahalah semaksimal mungkin untuk dapat mewujudkan keinginan itu, untuk mengukir masa depan yang cerah. Peran yang satu ini teramat sangat penting bagi kita, dan inilah yang membedakan kita dengan komunitas yang lain, peran ini menjadi simbol dan miniatur kesuksesan kita dalam menjaga keseimbangan dan memajukan diri kita. Jika memang kegagalan akademik telah terjadi maka segeralah bangkit, ”jika nasi sudah jadi bubur” maka bagaimana sekarang kita membuat bubur itu menjadi “bubur ayam spesial“. Artinya jika sudah terlanjur gagal maka tetaplah bangkit seta mancari solusi alternatif untuk mengembangkan kemampuan diri meraih masa depan yang cerah dunia dan akhirat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar