Jumat, 14 Desember 2012

RETORIKA DUNIA

Batu hitam itu sama sekali tak punya perasaan, mereka membiarkan saja lumut dan sejumlah makhluk laiinya menggerogoti tubuh mereka. Mereka hanya melihatku berada dalam ketidakadilan. Batu hitam itu adalah tak sanggup aku melihatnya. Kelam itulah penggambaran jiwanya. Hatiku sungguh terpaut pada ketidakmampuannya berkata tidak pada setiap tindakan buruk yang akan terjadi padanya. Malapetaka adalah kehadirannya beserta ketidakmampuannya. Tubuhnya tak pernah menggigil dalam hamparan hujan yang tak jelas permasalahnnya. Kehidupannya tak mampu iya junjung tinggi meskipun orang-orang mengaggapnya tak hidup. Dunia sunggu tak adil pada batu hitam itu dan diriku. Andaikan bisa aku hanya ingin bercerita padanya tentang aku dan kehidupanku saat ini. Tapi sekali lagi aku katakian mereka, batu hitam itu tak akan pernah mau peduli denganku. Perihal diriku dan batu hitam itu mereka terobsesi pada keadaan yang tak mungkin mereka fahami. Tuhan begitu adil pada mereka namun tidak denganku dan batu hitam itu. Seyognyanya Tuhan masih menganggapku ada itulah sekedar rasa syukurku pada;Nya. Batu hitam itu tak pernah kubayangkan bisa memberi sejuta inspirasi yang terama meyakinkan. Mereka berkata dalam ketidakadilan. Tuhan aku dan batu hitam itu hanya mengharapkan sebuah keadilan yang hnya bisa aku angankan. Tuhan sejuta harapanku adalah mimpiku yang tak pernah akan engkau lepaskan dari pelukanmu. Aku masih berharap Batu hitam itu adalah ujung takdirku yang penuh asa berharap pada-Mu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar